Bisnis UMKM Usaha Angkringan dengan Konsep Sederhana

Bisnis UMKM Usaha Angkringan dengan Konsep Sederhana

Kenapa Angkringan Selalu Dicari?

Bisnis UMKM usaha angkringan kalau kamu perhatikan, angkringan itu seperti “magnet malam” yang sederhana tapi bikin orang betah. Orang datang bukan cuma karena lapar, tapi karena suasananya. Ada kehangatan, ada obrolan, ada rasa “pulang” meski bukan di rumah.

Budaya nongkrong yang tak pernah mati

Di Indonesia, nongkrong itu bukan tren musiman. Dari mahasiswa sampai pekerja, semua butuh tempat singgah. Angkringan cocok banget karena fleksibel: bisa buat makan cepat, bisa juga buat ngobrol panjang.

Harga ramah, rasa dekat di hati

Angkringan identik dengan harga terjangkau. Tapi yang bikin orang balik lagi biasanya bukan cuma murahnya—melainkan rasa yang konsisten, pelayanan yang ramah, dan suasana yang bikin nyaman. Ini yang sering jadi “nilai jual emosional” dan sulit ditiru kalau kamu serius membangun pengalaman pelanggan.

Gambaran Konsep Bisnis UMKM Usaha Angkringan Sederhana yang Menguntungkan

Konsep sederhana bukan berarti asal jadi. Sederhana itu seperti kaos putih: kelihatannya basic, tapi kalau pas di badan dan bahannya enak, orang bisa pakai tiap hari.

Sederhana itu bukan seadanya

Angkringan sederhana yang bagus biasanya punya ciri: menunya ringkas, penyajiannya rapi, dan alur kerja cepat. Kamu tidak butuh dekor berlebihan, tapi butuh “rapi dan niat”.

Fokus pada cepat, rapi, konsisten

Dalam bisnis kuliner skala kecil, kecepatan itu uang. Kalau pelanggan menunggu terlalu lama, mereka bisa pindah. Jadi sejak awal, bangun alur kerja: ambil pesanan → ambil menu → bakar/goreng → sajikan → bayar. Simpel, jelas, dan bisa dikerjakan meski kamu cuma berdua dengan satu helper.

Siapa Target Pasarnya?

Salah satu kesalahan yang sering terjadi: semua orang dianggap target. Padahal angkringan yang laris biasanya paham siapa yang paling sering beli, jam berapa, dan beli apa.

Mahasiswa, pekerja, warga sekitar

  • Mahasiswa/kosan: suka paket hemat, menu pedas, dan minuman hangat murah.
  • Pekerja: cari cepat, mengenyangkan, dan praktis.
  • Warga sekitar: lebih rutin, biasanya beli karena dekat dan sudah percaya.

Pelanggan malam vs pelanggan sore

Kalau kamu buka sore ke malam, pola pembeliannya beda. Sore cenderung pembelian cepat (snack + minum). Malam cenderung nongkrong (makanan kecil bertahap, tambah minum, tambah sate, tambah lagi…).

Menentukan Lokasi yang “Nempel” di Arus Orang

Lokasi itu seperti corong. Kalau corongnya sempit, sekeras apa pun kamu jualan, aliran pembeli tetap kecil. Sebaliknya, lokasi ramai bisa bikin kamu “ketarik” oleh arus orang yang lewat.

Dekat kos-kosan dan kampus

Area kos dan kampus itu ladang emas untuk angkringan konsep sederhana. Orang butuh makan murah, jam buka fleksibel, dan tempat nongkrong.

Dekat pabrik, kantor, dan titik transit

Titik transit seperti dekat halte, stasiun kecil, atau jalur pulang kerja juga bagus. Orang sering cari camilan dan minuman hangat sebelum pulang atau setelah lembur.

Cara cek lokasi tanpa biaya riset mahal

Cukup lakukan ini selama 3 hari:

  1. Datang di jam calon buka (misal 17.00–22.00).
  2. Hitung arus orang lewat per 15 menit.
  3. Amati kompetitor: ramai karena apa? Sepi karena apa?
  4. Cek parkir dan keamanan.
    Kalau arusnya stabil dan ada kebiasaan orang berhenti, itu sinyal kuat.

Peralatan Utama untuk Memulai Angkringan

Angkringan sederhana tidak harus mahal. Yang penting fungsional, awet, dan bikin kerja kamu cepat.

Gerobak/booth minimalis

Kamu bisa pilih:

  • Gerobak kayu sederhana
  • Booth lipat
  • Meja panjang + rak display
    Yang penting: tampilan bersih, ada tempat display menu, dan mudah dibongkar-pasang.

Kompor, termos, dan alat saji

Peralatan inti biasanya:

  • Kompor (gas) + tabung
  • Panggangan sate
  • Wajan/penggorengan (kalau gorengan)
  • Termos besar untuk teh/jahe
  • Piring, gelas, sendok, penjepit makanan
  • Wadah tertutup (biar higienis)

Checklist belanja awal yang realistis

Mulai dari yang wajib: gerobak/booth, kompor, panggangan, wadah makanan tertutup, termos, lampu, spanduk. Sisanya bisa menyusul setelah arus kas mulai stabil.

Menyusun Menu Laris: Sedikit Tapi Nendang

Daftar menu angkringan itu seperti playlist: tidak harus banyak lagu, tapi harus lagu yang bikin orang betah.

Menu inti: nasi kucing, sate-satean, gorengan

Menu yang biasanya cepat laku:

  • Nasi kucing (sambal teri, ayam suwir, oseng tempe)
  • Sate usus, sate telur puyuh, sate kulit, sate bakso
  • Gorengan: tahu isi, tempe mendoan, bakwan, pisang goreng

Kuncinya: pilih menu yang mudah diproduksi, mudah disimpan, dan cepat disajikan.

Minuman andalan: teh hangat, kopi, jahe

Minuman margin-nya sering lebih bagus daripada makanan. Andalan yang cocok untuk konsep sederhana:

  • Teh panas/teh tarik
  • Kopi tubruk/kapal api style
  • Wedang jahe, susu jahe
  • Jeruk hangat

Trik “menu pendek” supaya operasional ringan

Buat 10–15 item yang benar-benar laku. Jangan 30 item tapi bikin kamu kewalahan. Lebih baik sedikit, tapi cepat, rapi, dan konsisten. Nanti setelah ramai, baru tambah 3–5 menu “premium” untuk naikkan profit.

Strategi Harga: Murah Boleh, Tapi Harus Sehat

Harga murah itu bagus, tapi kalau tiap hari kamu capek dan uangnya tidak ngumpul, itu bukan bisnis—itu kerja rodi berkedok usaha.

Rumus sederhana hitung HPP

Cara gampang:

  • Hitung total biaya bahan per porsi
  • Tambahkan biaya bumbu, gas, minyak, kemasan
  • Tambahkan “biaya tak terlihat” (susut, tumpah, sisa)

Lalu tentukan harga jual dengan margin yang masuk akal. Misalnya, margin 40–60% untuk minuman dan gorengan itu sering jadi penyelamat cashflow.

Paket hemat biar cepat closing

Bikin paket seperti:

  • Paket A: nasi kucing + 2 sate + teh hangat
  • Paket B: nasi + sate telur + gorengan + kopi
    Paket bikin pelanggan tidak mikir lama. Dan kamu lebih gampang mengatur stok.

SOP Kebersihan dan Rasa yang Konsisten

Konsistensi itu alasan pelanggan balik lagi. Hari ini enak, besok hambar? Hancur reputasi. Dan sekarang orang makin peka sama kebersihan warung kecil.

Standar bumbu dan takaran

Buat takaran sederhana: sendok, gram, atau gelas ukur. Misalnya sambal 1 sendok per nasi kucing. Ayam suwir 20 gram per bungkus. Kecil kelihatannya, tapi ini yang menjaga rasa dan biaya tetap terkendali.

Food safety biar pelanggan percaya

  • Gunakan wadah tertutup untuk sate dan lauk
  • Pisahkan bahan mentah dan matang
  • Ganti minyak secara teratur
  • Sediakan tisu dan tempat sampah yang jelas
    Kebersihan itu “iklan diam-diam”. Orang lihat, orang percaya.

Branding Bisnis UMKM Usaha Angkringan: Biar Sederhana Tapi Berkelas

Identitas brand bukan cuma logo. Branding itu cara orang mengingat kamu.

Nama, spanduk, dan gaya komunikasi

Pilih nama yang:

  • Mudah diucap
  • Nyambung dengan lokasi/keunikan
  • Tidak panjang

Spanduk cukup jelas: nama, menu unggulan, jam buka, dan nomor WhatsApp. Tambahkan satu kalimat kecil yang bikin akrab, misalnya “Nasi kucing hangat, cerita juga hangat.”

Lighting dan vibe nongkrong

Lampu kuning hangat, kursi sederhana, dan tata letak rapi bisa bikin tempatmu terasa nyaman. Orang itu kadang tidak sadar mereka betah karena pencahayaan dan suasana, bukan cuma karena makanannya.

Cara Bikin Angkringan Ramai dari Hari Pertama

Angkringan baru itu seperti panggung baru. Kamu perlu “penonton pertama” supaya yang lain ikut merapat.

Soft opening dan promo cerdas

Hari pertama–ketiga, buat promo yang gampang:

  • Beli 3 sate gratis 1
  • Paket hemat launching
  • Diskon minuman hangat jam tertentu

Tapi ingat: promo harus tetap masuk hitungan, jangan sampai kamu rugi besar hanya demi ramai.

Kolaborasi dengan warga/komunitas

Ajak RT, pemuda, komunitas motor, komunitas futsal, atau anak kos sekitar. Kasih “menu tester” di awal, lalu minta mereka datang di jam ramai. Angkringan itu hidup dari keramaian—kalau terlihat ramai, orang lain cenderung ikut.

Teknik bikin pelanggan balik lagi

  • Sapa dengan nama kalau sudah sering datang
  • Simpan “menu favorit” mereka dalam ingatan
  • Kasih bonus kecil sesekali (misal 1 gorengan)
    Hal kecil ini efeknya besar, karena orang suka merasa “dianggap”.

Strategi Digital Marketing yang Ringan Tapi Ngena

Kamu tidak perlu jadi influencer. Kamu cuma perlu muncul di tempat yang pelanggan cari.

Google Maps dan ulasan

Buat lokasi di Google Maps. Minta pelanggan setia kasih review jujur. Banyak orang cari “angkringan terdekat” atau “angkringan enak” — kalau kamu muncul, peluang masuk.

WhatsApp broadcast dan Instagram story

  • Simpan nomor pelanggan yang mau dapat info promo
  • Posting story jam buka dan menu hangat hari ini
  • Upload suasana rame (ini penting, karena jadi social proof)

Contoh Nyata Simulasi Angkringan Sederhana

Bayangin kamu mulai dengan konsep sederhana dekat kos-kosan.

Skema modal, menu, dan omzet

Misal skenario realistis:

  • Menu inti: nasi kucing, 6 jenis sate, 4 jenis gorengan, 4 minuman hangat
  • Target jual harian:
    • 80 nasi kucing
    • 200 sate campur
    • 120 gorengan
    • 70 minuman

Kalau rata-rata transaksi per orang Rp12.000–Rp18.000, dengan 60–100 pelanggan per malam, omzet harian bisa naik bertahap. Yang penting di awal bukan langsung besar, tapi stabil dan terus naik.

Evaluasi harian biar cepat naik kelas

Setiap malam catat:

  • Menu paling laku
  • Jam paling ramai
  • Menu paling banyak sisa
  • Keluhan pelanggan (kalau ada)
    Dari sini kamu bisa memangkas menu yang tidak laku dan fokus ke yang menghasilkan.

Cara Naik Omzet Tanpa Tambah Capek

Naik omzet bukan selalu berarti tambah jam kerja. Kadang cuma butuh strategi.

Tambah item high margin

Contoh item margin bagus:

  • Teh tarik, susu jahe, kopi susu
  • Indomie angkringan (kalau cocok pasar)
  • Sate kulit pedas manis (bikin orang nambah)

Sistem pre-order dan bundling

Kalau pelanggan kos sering beli, tawarkan pre-order:

  • Paket mingguan (misal 3x nongkrong)
  • Paket malam ramai (untuk kelompok)
    Bundling bikin transaksi lebih besar tanpa harus cari pelanggan baru terus-menerus.

Risiko Umum dan Cara Mengatasinya

Setiap bisnis ada tantangannya. Yang membedakan adalah kamu siap atau tidak.

Sepi, saingan, cuaca

  • Sepi? Evaluasi jam buka, menu, dan pencahayaan.
  • Banyak saingan? Tonjolkan rasa, kebersihan, dan layanan.
  • Hujan? Siapkan tenda sederhana dan area duduk lebih rapat.

Kontrol stok dan pemborosan

Sate dan gorengan yang sisa itu “uang yang menguap”. Mulai dengan stok kecil, lalu naikkan perlahan sesuai data penjualan. Stok yang pas itu seperti rem dan gas: bikin bisnis melaju tanpa boros.

Checklist Launching 7 Hari

Persiapan, uji rasa, dan pembukaan

  • Hari 1–2: tentukan lokasi, izin lingkungan, konsep booth
  • Hari 3: uji menu inti dan takaran bumbu
  • Hari 4: siapkan spanduk, lighting, wadah higienis
  • Hari 5: uji jual kecil (teman/keluarga/komunitas)
  • Hari 6: perbaiki menu dan SOP
  • Hari 7: opening dengan paket hemat + ajak warga sekitar

Kesimpulan

Bisnis UMKM usaha angkringan dengan konsep sederhana itu bukan soal “jualan murah”, tapi soal membangun tempat singgah yang hangat, cepat, dan konsisten. Mulai dari lokasi yang tepat, menu ringkas yang laku, harga yang sehat, sampai branding yang rapi—semuanya bisa kamu bangun langkah demi langkah tanpa harus modal besar. Angkringan yang sukses itu seperti api kecil yang dijaga: awalnya sederhana, tapi kalau stabil, lama-lama bisa jadi terang dan menghidupi.

Peran Teknologi Dalam Pertumbuhan UMKM